Penghormatan terhadap Isteri

Ada kalanya suami tidak puas dengan keadaan isterinya. Bahkan mungkin mulai membandingkan isterinya dengan wanita lain seolah-olah suaminya menyesal menikah dengannya. Sungguh, hanya kesedihan yang mendalamlah yang ada pada diri para isteri jika sampai hal ini terjadi.
Allah telah berfirman dalam Q.S Annisa ;19 “….Dan bergaullah dengan mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
Mereka juga harus sadar bahwa mereka tak akan pernah mendapatkan seorang isteri yang bebas dari kekurangan. Boleh jadi, isterinya dengan segala kekurangan itu masih lebih baik ketimbang wanita lain, hanya saja dia tidak melihat aib atau kekurangan dari wanita tersebut.
Ketahuilah bagi para suami, isterimu tak akan dan tak akan pernah seratus persen sebagaimana yang kau inginkan. Sebab ia menerima pendidikan yang berbeda denganmu, serta mempunyai tabiat yang berbeda dengan tabiat yang kau miliki. Terkadang ia memang mirip denganmu dalam beberapa hal, tapi kadang mereka juga berbeda dalam beberapa hal. Janganlah engkau melawan kehidupan dan hendak mengalahkan tabiat yang sudah mengakar, karena tidak mudah mengubahnya.
Para suami juga terkadang suka melecehkan akal para isterinya. Ada yang mengatakan bahwa suami seperti ini adalah suami yang tidak pantas mendapatkan penghormatan dari isterinya sendiri, karena penghormatan adalah sesuatu yang bersifat timbal balik. Mereka suka menganggap akal wanita itu bengkok dan kurang lurus dan tidak akan memiliki pendapat yang lurus.
Pendapat yang seperti ini tidak ada sumbernya, satu-satunya sumber adalah pemahaman yang keliru tentang beberapa hadist yang berbicara tentang masalah ini. Misalnya adalah hadist yang menyebutkan bahwa mereka adalah “orang-orang yang kurang akal dan agamanya”.
Namun ada penjelasan dari Rasulullah sendiri mengenai masalah ini. Ketika Rasulullah ditanya oleh seorang wanita “apakah kekurangan akal dan agama kami. Ya Rasulullah?” Maka beliau menjawab “Bukankah kesaksian wanita itu adalah separuh dari kesaksian laki-laki”? “Ya benar.” Nabi bersabda, “Itulah bentuk kekurangan akalnya.” Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Bukankah jika sedang haid, ia tidak mengerjakan shalat dan tidak berpuasa”? “Ya”. “Itulah bentuk kekurangan agamanya.”
Dengan demikian, bentuk kekurangannya tidaklah seperti anggapan yang selama ini ada. Jika memang, seorang suami telah menikahi yang kurang cerdas dan bengkok akalnya, maka tidak ada alasan baginya untuk menyebutkan hal itu di depannya atau selalu membodoh-bodohkannya. Ak juga kaum lelaki yang berpikiran bahwa ‘bermusyawarah’ dengan isteri hanya akan merobohkan rumah tangga. Namun Rasulullah sendiri tidak segan untuk meminta pendapat dari isterinya. Jadi apa alasan kita untuk tidak mencontohnya?

~ oleh apiephana pada Januari 29, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: