JATI DIRI BANGSA PADA SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL

Abstrak
Sekolah Betaraf Internasional adalah sekolah yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Berdasarkan tujuannya, SBI mempunyai beberapa poin penting, yakni: (1) Meningkatkan kualitas dan daya saing lulusan di tingkat regional dan internasional (2) Sebagai antisipasi peningkatan migrasi tenaga kerja internasional (3) Meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di pasar kerja internasional (4) Mempertahankan peluang kerja tenaga kerja Indonesia di pasar kerja nasional yang dibentuk oleh Perusahaan Asing di Indonesia. Karakteristik pengelolaan SBI yang diungkapkan oleh Kemdiknas, yaitu: (1) Meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000; (2) Merupakan sekolah/madrasah multi kultural; (3) Menjalin hubungan “sister school” dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri; (4)Bebas narkoba dan rokok; (5) Bebas kekerasan (bullying); (6) Menerapkan prinsip kesetaraan jender dalam segalaaspek pengelolaan sekolah; dan (7) Meraih medali tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, tekonologi, seni, dan olah raga.
Disamping keunggulan-keunggulan yang ditawarkan, terdapat juga aspek-aspek yang perlu diwaspadai dalam hubungannya SBI dengan jati diri bangsa. Diantara aspek-aspek yang harus diwaspadai tersebut antara lain: (1) dari aspek tujuan SBI. Jangan sampai dengan adanya SBI, bangsa ini tetap pada visi mempertahankan peluang kerja tenaga kerja Indonesia di pasar kerja nasional yang dibentuk oleh Perusahaan Asing di Indonesia. Akan jauh lebih baik jika dengan adanya SBI, maka bangsa mempunyai intelektual muda yang sanggup mendirikan perusahaan domestik bertaraf internasional (2) dari aspek sister school. Janga sampai dengan adanya hubungan yang terjalin antara SBI dengan sister school-nya, malah menjadikan SBI kita terlalu terpaku dengan sister school sehingga sister school tersebut terlalu mendominasi peran dalam hubungan tersebut, karena hal tersebut dapat membahayakan kelangsungan jati diri bangsa yang sesungguhnya; dan (3) dari aspek muatan lokal. Jangan sampai dengan adanya SBI malah membuat siswa tidak mengenal budayanya sendiri dan lebih mengenal budaya bangsa asing. Karena dalam perumusannya, SBI = RSBI + X, dimana X adalah Indikator Kinerja Kunci Tambahan yang tergantung kepada tujuan sekolah dan pencapaiannya.

PENDAHULUAN
Sesuai dengan Pasal 28C ayat (1) UUD’45 yang berbunyi ‘setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya demi meningkatkan kualitas hidupnya demi kesejahteraan umat manusia’, dan Pas 3 UU 20/2003 yang berbunyi ‘pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya portensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab’ maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan bukan hanya merupakan pilar terpenting dalam upaya mencerdaskan bangsa, tetapi juga merupakan syarat mutlak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan.
Banyak model sekolah yang berkembang belakangan ini, antara lain rintisan sekolah bertaraf internasional, sekolah bertaraf internasional, dan sekolah berstandar nasional. Menurut definisi, pendidikan bertaraf internasional adalah pendidikan yang diselenggarakan setelah memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Sedangkan definisi satuan pendidikan bertaraf internasional merupakan satuan pendidikan yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju. Jadi kurang lebih dapat disimpulkan bahwa Sekolah Betaraf Internasional adalah sekolah yang telah memenuhi Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan standar pendidikan negara maju.
Landasan yuridis sekolah bertaraf internasional yaitu UUSPN 20/2003 pasal 50 ayat 3, pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelengarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan dan semua jenjang pendidik untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.
1. Undang-undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
2. Peraturan pemerintah (PP) Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), pasal 61 ayat 1
3. PP 38 tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota
4. PP No. 48 tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan
5. PP No. 17 tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan
6. Permendiknas No. 63 tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
7. Permendiknas No. 78 tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional.
Berdasarkan tujuannya, SBI mempunyai beberapa poin penting, yakni:
1. Meningkatkan kualitas dan daya saing lulusan di tingkat regional dan internasional
2. Sebagai antisipasi peningkatan migrasi tenaga kerja internasional
3. Meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di pasar kerja internasional
4. Mempertahankan peluang kerja tenaga kerja Indonesia di pasar kerja nasional yang dibentuk oleh Perusahaan Asing di Indonesia

Karakteristik pengelolaan SBI yang diungkapkan oleh Kemdiknas, yaitu
1. Meraih sertifikat ISO 9001 versi 2000 atau sesudahnya dan ISO 14000;
2. Merupakan sekolah/madrasah multi kultural;
3. Menjalin hubungan “sister school” dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri;
4. Bebas narkoba dan rokok;
5. Bebas kekerasan (bullying);
6. Menerapkan prinsip kesetaraan jender dalam segalaaspek pengelolaan sekolah; dan
7. Meraih medali tingkat internasional pada berbagai kompetisi sains, matematika, tekonologi, seni, dan olah raga.

Adapun karakteristik pendidik dalam lingkungan SBI antara lain:
1. Semua guru mampu memfasilitasi pembelajaran berbasis TIK
2. Guru kelompok mata pelajaran sains, matematika, dan inti kejuruan mampu mengampu pembelajaran berbahasa Inggris;
3. Minimal 10% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SD/MI;
4. Minimal 20% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SMP/MTs;
5. Minimal 30% guru berpendidikan S2/S3 dari perguruan tinggi yang program studinya berakreditasi A untuk SMA/SMK/MA/MAK.

PEMBAHASAN
Pada dasarnya, semua kebijakan adalah bertujuan baik, akan tetapi perlu dicermati lagi, misalnya, pada poin 4 dalam tujuan SBI diatas, yang berbunyi ‘Mempertahankan peluang kerja tenaga kerja Indonesia di pasar kerja nasional yang dibentuk oleh Perusahaan Asing di Indonesia’. Memang, Indonesia belum mampu untuk mengembangkan perusahaan yang tangguh secara mandiri, sehingga perusahaan asing banyak yang membuka cabang diIndonesia. Akan tetapi, apakah poin tersebut cukup pantas untuk dijadikan tujuan? Bukankah akan lebih terdengar baik ketika tujuannya diubah menjadi ‘menciptakan tenaga kerja yang kompeten sehingga dapat berdiri perusahaan-perusahaan domestik yang lebih didominasi oleh orang-orang asli Indonesia yang dapat bersaing secara internasional’. Jika pola pikir kita hanya sebatas pada poin 4 tersebut, maka pola pikir tersebut sangat cocok diterapkan pada bangsa yang masih terjajah oleh bangsa lain. Pola pikir seperti inilah yang dapat mengikis jati diri bangsa Indonesia yang sesungguhnya, karena hanya akan terus menjadi pekerja atau mesin pencari uang bangsa lain, padahal Indonesia tidak bermental jajahan. Indonesia adalah bangsa yang merdeka dan bisa mandiri.
Berdasarkan uraian mengenai karakteristik pengelolaan SBI, dapat kita lihat bersama bahwa sekolah harus menjalin hubungan sister school dengan sekolah bertaraf internasional di luar negeri. Hal ini menjadi kurang baik ketika hubungan tersebut terlalu mendominasi karakteristik SBI dalam negeri sehingga SBI dalam negeri tidak memiliki identitasnya lagi. Hal ini sama saja dengan erosi jati diri, baik jati diri sekolah sebagai sekolah yang mengembangkan potensi daerah, maupun erosi jati diri pendidik dan peserta didik. Menjalin hubungan dngan pihak luar itu baik, akan tetapi terbatas pada hal-hal yang esensial saja, bukan lalu mendewa-dewakan sistem pendidikan di luar, apalagi budaya luar yang terkesan kurang sopan apabila dipandang oleh kacamata nenek moyang bangsa Indonesia.
Menyoroti penggunaan bahasa, seperti tuntutan SBI bahwa penggunaan bahasa inggris sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran, maka sebagai generasi pendidik perlu berhati-hati akan terkikisnya bahasa lokal, misalnya bahasa jawa. Perlu diingat bahwa rumus SBI = RSBI + X, dimana X adalah IKKTnya. Jika sampai mengikis bahasa lokal, itu berarti rumus SBI = RSBI – IKKT. Suatu contoh, Pada era sekarang ini, bayi-bayi saja kecil diajarkan bahasa indonesia sebagai bahasa sehari-hari, lalu memasuki usia SD, anak-anak sudah dituntut mempelajari berbahasa Inggris. Lalu kapan giliran bahasa lokal? Padahal bahasa hanya akan bermakna ketika digunakan. Jika sehari-hari menggunakan bahasa Indonesia dan di sekolah menggunakan bahasa inggris, kapan bahasa lokal akan bermakna? Hal ini tentu mengikis jati diri bangsa sebagai bangsa yang memiliki berratus-ratus bahasa daerah.
KESIMPULAN
Seiring dengan perkembangan jaman, sekolah juga makin berkembang. Salah satu wujud perkembangannya yaitu adanya SBI. Namun disamping keunggulan-keunggulan yang ditawarkan, terdapat juga aspek-aspek yang perlu diwaspadai dalam hubungannya SBI dengan jati diri bangsa. Diantara aspek-aspek yang harus diwaspadai tersebut antara lain:
1. Dari aspek tujuan SBI. Jangan sampai dengan adanya SBI, bangsa ini tetap pada visi mempertahankan peluang kerja tenaga kerja Indonesia di pasar kerja nasional yang dibentuk oleh Perusahaan Asing di Indonesia. Akan jauh lebih baik jika dengan adanya SBI, maka bangsa mempunyai intelektual muda yang sanggup mendirikan perusahaan domestik bertaraf internasional.
2. Dari aspek sister school. Janga sampai dengan adanya hubungan yang terjalin antara SBI dengan sister school-nya, malah menjadikan SBI kita terlalu terpaku dengan sister school sehingga sister school tersebut terlalu mendominasi peran dalam hubungan tersebut, karena hal tersebut dapat membahayakan kelangsungan jati diri bangsa yang sesungguhnya.
3. Dari aspek muatan lokal. Jangan sampai dengan adanya SBI malah membuat siswa tidak mengenal budayanya sendiri dan lebih mengenal budaya bangsa asing. Karena dalam perumusannya, SBI = RSBI + X, dimana X adalah Indikator Kinerja Kunci Tambahan yang tergantung kepada tujuan sekolah dan pencapaiannya.

REFERENSI
Diknas.(—). Prospek Sekolah Bertaraf Internasional.
Diknas.(—). Kebijakan SBI.
Marsigit.(2011). Sekolah Bertaraf Internasional. http://powermathematics.blogspot.com/2011/12/sekolah-bertaraf- internasional.html. Diakses pada tanggal 25 Desember 2011 pukul 12.00.

~ oleh apiephana pada Desember 25, 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: